Follow Me @fergiana.s

Saturday, December 9, 2017

Wanita Selalu Benar?

December 09, 2017 2 Comments
Hello! Kali ini aku ingin sharing pendapat mengenai suatu hal yang mungkin saat ini kalian sangat menyetujuinya namun rasa-rasanya ini sedikit tidak adil (setidaknya bagiku). Beberapa malam sebelumnya aku sempat membaca artikel-artikel, dan diantaranya banyak sekali ungkapan-ungkapan seperti “wanita itu selalu benar”, “Wanita dapat memulai perang dunia keberapa pun” dan lain-lain banyak sekali yang menujukan bahwa wanita selalu benar. Okay, bukan karena aku ini salah seorang wanita, bukan karena aku tersinggung, bukan karena aku ingin berkata aku benar, tapi sekali lagi aku hanya ingin mengutarakan pendapat ku.

Entah siapa pula yang awalnya menciptakan ungkapan tersebut, aku tidak mengatakan tidak setuju atau sebaliknya, tapi menurutku kemungkinan besar adalah kaum adam yang menciptakan quotes tersebut. Meskipun bila jika kaum hawa yang menciptakannya, sebagian besar yang menggunakannya adalah lelaki. Aku berkata demikian karena dilingkungan hidupku aku sering mendengar perdebatan teman-temanku. Dan biasanya jika para lelaki menyerah tetapi masih ada rasa jengkel maka ia akan berkata “Ah, cewek mah selalu benar!”.

Bila ditelusuri lebih jauh, pastinya banyak yang mengatakan benar pada kalimat lelaki. Bukankah ini sedikit tidak adil? Maksudku bila kalian yang tidak mengetahui penyebab mereka berdebat dan kemudian jika memang lelaki yang salah kemudian mengatakan quotes andalan maka BOOM! Auto win. Jadi maksudku disini adalah, bukankah yang selalu benar itu lelaki?

Kalian paham maksudku? Bila tidak akan kujelaskan. Begini perasaan cewek kalau memang ia salah dan cowok mengatakan kalimat sakral itu:
‘Memang kok cewek selalu benar. Seharusnya lelaki dong ngalah! Kalau udah tau demikian harusnya gak usah deh berdebat sama aku’.

Ini namanya cewek egois.

Sedangkan ini perasaan cewek yang memang benar:
‘Hah? Kok kayaknya jadi aku yang salah? Apa-apaan bawa quotes begituan, rasanya gak enak banget kata-kata begitu. This is so wrong, tapi kalau aku menegaskan aku benar tampaknya aku yang akan menjadi orang jahat’.

Bukankah ini namanya cewek serba salah? Justru tampaknya kedua contoh diatas menempatkan cewek sebagai makhluk egois, selalu ingin benar (meski salah diantara mereka memang egois yak).

You got me? Intinya wanita selalu dipandang ingin benar dan tidak ingin mengalah. Sejujurnya aku pribadi paling tidak suka jika terjadi sedikit perdebatan dan lawan bicara aku (mau itu cewek atau cowok) berkata “Yah, kamu menang aku kalah”. Aku paling tidak suka! Oops jadi curhat hehe.

Anyway, untuk yang membaca baik lelaki maupun perempuam yang ingin menyelesaikan masalah masalah dengan baik jangan gunakan kalimat “Wanita/Cewek/Perempuan selalu benar” atau”Udah deh kamu menang”. Karena sesungguhnya itu sangat tidak mengenakkan untuk pihak yang menerima kata-kata tersebut. Mohon ditahan emosinya bagi yang diperlakukan seolah-olah salah tapi sebenarnya kamu benar, didoakan saja orangnya :)

Thank you so much sudah luangin waktu baca konten kali ini, jangan lupa react, comment, dan share!
See you guys on the next post, CIAO~

(P.S: Update setiap malam minggu, untuk info postingan bisa di cek di story ig ku @fergiana.s)

Saturday, December 2, 2017

Dereck Milton - I'm Disappointed Towards Old People

December 02, 2017 1 Comments
Namaku Dereck Milton dan aku selalu kecewa terhadap orang tua. Yah tampaknya aku seperti anak tidak sopan yang duduk dan menceritakan pengalaman burukku bersama orang tua. Tapi coba dengar dahulu kedua ceritaku.

Saat aku masih kecil, ibuku selalu berteriak bahwa aku ini adalah penyesalan terbesarnya. Apa salahku waktu itu? Karena aku menunda pekerjaan yang ia suruh, mencuci baju. Tidak hanya itu, ia juga memanggilku dengan nama-nama yang dapat kau temui disuatu tempat yang bernama ‘kebun binatang’. Padahal dua hari yang lalu ketika ia berulang tahun, aku memberinya kejutan manis, aku tidak berharap ia akan menyayangiku sebagaimana semestinya setiap orangtua lakukan. Tetapi tidakkah ia bersikap keterlaluan? Aku bukannya menolak melainkan menunda. Tidakkah sebersit pun terlintas pemikiran bahwa yang ia ucapkan itu adalah salah? Haruskah selalu aku yang disalahkan?

Untuk apa aku dilahirkan jika aku adalah penyesalan terbesarnya. Aku pernah saking marah dan kecewa menyuruhnya untuk membunuhku dan ia akan bebas dari rasa sesalnya, apa jawaban yang kudapatkan? Sebuah tamparan. Sungguh orang tua itu sangat membingungkan bukan?

Saat aku beranjak dewasa aku bekerja di suatu perusahaan. Bos ku adalah orang tua yang kumaksud disini. Perusahaan ini adalah turunan dari ayahnya yang memang sangat brilian (aku mendengarnya dari pekerja senior). Tetapi bosku yang sekarang ini hanya mengandalkan sekretaris dan manager untuk memutuskan perkara perusahaan. Aku tidak terlalu peduli akan hal tersebut, toh aku mengerjakan tugasku dengan baik dan gaji yang kuterima juga sepantasnya. Suatu ketika ada sebuah rapat besar yang diadakan di kantorku, rapat ini mengundang lima perusahaan besar yang ingin turut menginvestasi saham ke perusahaan kami dan bosku panik. Sebab yang akan membawa pembicaraan selama rapat berlangsung adalah dia sendiri.

Aku tidak mengerti mengapa harus bos ku sendiri yang menyampaikannya, tapi aku sungguh sangat kesal. Ketika pembahasan berlangsung ada salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan di sesi tanya jawab, tentu saja ‘kebetulan’ itu mengacu kepada bagian perusahaan yang dimana aku ditempatkan. Bosku melirikku sekilas kemudian menaikkan alisnya (aku masih dapat mengingat tatapannya). Aku menguasai pekerjaan ku, aku mengenali sangat pekerjaanku. Tentu saja aku dapat menjawabnya.

Kau tau apa yang terjadi keesokan harinya? Aku diberi surat peringatan. Alasan? Bos ku melirik dan menaikkan alis pertanda bahwa aku seharusnya membisikkan jawaban ke telinganya dan kemudian ia yang akan menyampaikannya supaya ia tidak terlihat bodoh. Benarkah semua ini terjadi padaku? Ya.
Oke sekian dari pengalamanku. Kurasa sekarang kalian cukup mengerti mengapa seorang Dereck kecewa terhadap orang tua. Sebenarnya kita orang muda memang sepatutnya menghargai mereka, aku paham benar hal itu.

Just because you’re offended doesn’t mean you’re right.

Tetapi apakah mereka memikirkan sebaliknya? Untuk kita? Kurasa hanya sekian persen yang melakukan hal yang sepatutnya. Aku tidak menyalahkan hanya ingin sekedar mengingatkan,

Just because you’re older doesn’t mean you have the right to be disrespectful.

-Dereck Milton, 2017 (Karakter Fiksi oleh Fergiana).
-o0o-

Hai! Terimakasih sudah membaca sampai sini, semoga saja post ini menghibur kalian. Berikut beberapa pertanyaan~ Boleh dijawab di comment ya :D1. Perasaan Dereck saat dikecewakan oleh orang tua sekitarnya?
2. Apakah Dereck membenci orang tua?
3. Pendapat kalian mengenai cerpen diatas?
Sekian post kali ini, jangan lupa reactcomment dan share! CIAO!

(P.S: Update setiap malam minggu, untuk info postingan bisa di cek di story ig ku @fergiana.s)

Saturday, November 25, 2017

Choices

November 25, 2017 5 Comments

"Kau gila Raymond, atau.. Apalah nama yang cocok untukmu"

"Maafkan aku Nicholas, sungguh maaf.."

"Maksudku ini tidak masuk akal. Kita berdua sudah berteman sejak umur 6 tahun! Dan.. apa-apaan ini... Aku dibohongi selama.. 17 tahun! Bayangkan"

"Nicho ini benar-benar darurat, sesungguhnya aku dari dulu memang berencana tidak akan memberitahunya kepada orang lain.. Tapi ayahku tiba-tiba mengenalkan aku kepada wanita itu. Apa yang harus aku lakukan? Nasib wanita itu akan sangat-sangat malang" 

"Yeah wanita itu... Ini seperti dua granat dilempar langsung kearah wajahku"

"Nicholas, aku ingin kau membantuku. Aku takut. Sangat malah. Kau sendiri tahu bahwa ayahku lebih suka anak laki-laki ketimbang perempuan"

"Wah luar biasa darimana informasi itu kau dapat?" Nicholas menggaruk-garuk rambut pirangnya kemudian menyesap bir.

"Well... Ibu kandungku. Maka dari itu aku harus jujur sekarang sebelum semuanya jauh lebih mengerikan"

"Ibu kandungmu! Wanita yang menjual mu kepada ayah kandung sendiri. Luar biasa. Kau percaya kepadanya"

Kedua orang itu duduk dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Bagi keduanya situasi ini memang kurang menyenangkan.

"Aku hanya ingin semua orang senang Nic, kau yang paling tau itu"

Nicholas tidak menjawab, ia menjejalkan kentang goreng kemulutnya kemudian kembali menyesap bir. Dahi yang tadinya berkerut kini sudah tidak bersisa lagi, ia kembali mengangkat gelas birnya.

"Sesungguhnya aku lega mendengar pengakuanmu"

"Apa maksudmu? Nic, besok aku harus mengatakannya ke orangtuaku. Sebelum masalahnya menjadi semakin rumit"

"Iya, dan....?"

"Aku minta maaf... Nicholas aku mohon teramat sangat. Aku tidak punya teman lain selain kamu. Kalau saja mereka kecewa atau bahkan mengusir aku, kemana aku harus pergi? Aku juga tak suka tatapan orang lain yang mungkin illfeel dengan aku. Apalagi melihat reaksimu yang sekarang"

"Aku mengerti, hanya butuh proses Ray, Ini terlalu tiba-tiba. Kukira.. Kukira selama ini aku sedikit berbeda"

"Apa maksudmu?"

"Aku.. Aku akan mengatakannya dilain waktu"

"Yeah, simpan itu untuk sesaat bila tidak terlalu penting. Untuk saat ini aku harus berkata apa kepada mereka?"

"Satu tarikan nafas akan membuatmu lega tanpa harus tarik ulur Ray, jangan-jangan malah mereka sudah tau sedari dulu?"

"Itu mustahil..."

"Siapa tahu?"

"Aku akan menemanimu besok" Lanjutnya kemudian tersenyum.
-o0o-

Hai! Terimakasih sudah membaca sampai sini, semoga saja post ini menghibur kalian. Akhir-akhir ini aku terhibur oleh beberapa cerita yang alurnya seperti ini. Menggunakan dialog sebagai arah cerita dan tentu saja maknanya tersirat. Berikut beberapa pertanyaan~ Boleh dijawab di comment ya :D
1. Apa 'masalah' yang sedang Raymond hadapi saat ini
2. Bagaimana perasaan Nicholas didalam cerita tersebut
3. Pendapat kalian mengenai post kali ini

Sekian post kali ini, jangan lupa react, comment dan share! CIAO!

(P.S: Update setiap malam minggu, untuk info postingan bisa di cek di story ig ku @fergiana.s)